Selasa, 08 Oktober 2013

[Media_Nusantara] Re: Justiani rebut suami orang? Saurip kadi rebut Istri orang?

 

Ahok: Saya tidak Tolol, Saya Paham UU Rusun

BeritaSKR.com, 3 Oktober2013. Wakil  Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama geram kepada BERITAJAKARTA.COM Sebab media online milik PEMDA DKI ini terbukti menjadi  Penyebar fitnah dan alat memutarbalikkan fakta yang bisa menghancurkan reputasinya. Media dotcom ini satu2nya yang merilis pernyataannya secara gegabah dengan cara merangkai kalimat Ahok untuk membenarkan tindakan kekerasan dan cara2 mafia yang dilakukan Duta Pertiwi kepada warga 9 Kawasan. 

Dalam media online tersebut, Ahok, sapaan akrab Basuki Tjahaja Purnama menyesalkan terutama tentang pengerahan ratusan preman dan security bayaran Duta Pertiwi  untuk menduduki Graha Cempaka Mas (GCM), seolah Ahok menjadi backing mafia satu ini.  "Saya tidak pernah ngomong seperti itu. Kapan ketemu dan wawancara saya. Berita yang dimuat itu ngarang, tidak benar," tegas Ahok di Balaikota DKI Jakarta.

Ahok sebelumnya justru menyayangkan sikap Duta Pertiwi karena ngotot mengangkangi yang bukan haknya, bahkan seperti tahun2  sebelumnya merekayasa dengan tetap menggelar RUTA 27 September lalu, dengan menyewa Hotel Gran Cempaka dan tiga bus yang ternyata kosong melompong tidak ada warga yang mau hadir, kecuali para Pegawai Sinar Mas Group yang tinggal  disitu.

"Saya ngerti UU Rusun, memang Duta Pertiwi belum menyerahkan aset bersama milik warga sesuai UU dan SKGUB, kok malah membisniskan aset milik warga untuk memeras warga, itu semua pelanggaran. Adalah tolol kalau saya sampai mengatakan Keputusan  dalam RULB versi Warga GCM sebagai melanggar undang-undang dan tidak sah", kata Ahok,  karena dalam Laporan dari Dinas Perumahan sudah diserahkan video lengkap, RULB 700 kursi penuh.  Ada yang menarik, malah dalam video itu terlibat jelas tiga orang Pengacau adalah Pegawai Duta Pertiwi, yang kini  jadi buron polisi karena tereak2 pakai toa ketika ratusan warga berdoa dan menyanyikan Indonesia Raya. 

Anehnya, meski tidak lagi dipercaya warga, Duta Pertiwi  ngotot melanjutkan RUTAH untuk tetap mempertahankan pengurus PPRS boneka.  ''Mereka (Duta Pertiwi)  tidak bisa memaksakan kehendak. Jangan main desak-mendesak dong, kami pasti tolak," tukas Ahok.

Dia mengimbau warga apartemen GCM tidak terprovokasi pihak luar (Duta Pertiwi) yang ngotot mempertahankan pengurus PPRS boneka melalui cara inkonstitusional. ''Kalau tetap ngotot, nanti warga nyesel dan rugi sendiri. Jangan biarkan orang luar ikut campur dalam masalah ini," ungkap Ahok.

Ahok dituduh oleh BERITAJAKARTA.COM mengatakan hal yang amat bodoh sbb: "banyak kasus serupa terkait pengelolaan apartemen yang diambil alih oleh warga tapi malahan bangkrut. "Areal parkir disewakan menjadi kost untuk menutupi biaya operasional. Ini tidak bisa dibiarkan dan warga mesti melihat persoalan ini secara jernih,". 

Tentu saja Ahok sewot membaca statemen tersebut. "Ini kan era telematika, saya bukan orang bodoh masak bilang begitu, kan sudah banyak property management online seperti Aston, Accor, Core, Falcon, Swissbel, dll". Cara online yang akan diterapkan oleh PPPRS GCM  yang baru ini, terbukti dengan biaya murah memberi kan layanan transparan, sebagai pendamping PPPRS sehingga tidak bisa lagi warga jadi sapi perahan seperti kasus 9 Kawasan Duta Pertiwi yang semua memberontak.

"Mereka (Duta Pertiwi) sengaja mau menggagalkan RULB Warga dengan cara mengacaukan acara sehingga terlambat membuka rapat dan di luar rapat juga berlangsung aksi demo sehingga banyak sekali  warga Korea dan Arab kembali ke rumah karena melihat kondisi tidak nyaman lagi," ungkap Armyn salah satu warga yang awalnya tidak tahu  masalah.

Tindakan PPPRS Boneka, lanjut Armyn, amat sangat menimbulkan antipati. Mestinya, masalah kenaikan IPL atau service charge yang sudah ada kesepakatan Tripartit dengan Dinas Perumahan dipatuhi oleh pengurus PPRS  boneka dan Duta Pertiwi, karena itu hasil musyawarah adalah sumber Hukum tertinggi, Kok Duta Pertiwi malah mempertontonkan sikap yang arogan.

Sekedar diketahui, kisruh apartemen GCM terjadi karena ulah segelintir orang bayaran Duta Pertiwi yang ingin mempertahankan kepengurusan Perhimpunan Pemilik Rumah Susun (PPRS) boneka yang sudah tidak dipercaya warga dan dipecat dalam RULB secara aklamasi. Bahkan Duta Pertiwi tidak segan2 mengerahkan ratusan preman dan security untuk menggagalkan RULB warga tersebut. Cara2 premanisme Duta Pertiwi itulah  yang mengakibatkan penghuni resah.

Keresahan warga terkait perilaku Duta Pertiwi yang kerap memaksakan kehendak, memprovokasi, mengacau, menakut2i dan manipulasi dukungan lewat orang2 bayaran untuk mengganggu pengurus PPRS GCM yang sah.

Untuk itulah Ahok meminta maaf kepada pemilihnya yakni Warga Graha Cempaka Mas yang telah berhasil menyelenggarakan Rapat Umum Luar Biasa (RULB) 20 September lalu, dan menelorkan 10 Amanat penderitaan warga, yang intinya untuk meluruskan UU D dan AD/ART yang selama belasan tahun diinjak2 oleh Duta Pertiwi melalui PPPRS Bonekanya.

Palmer Situmorang dan sejumlah Pengacara yang pemilik dan penghuni GCM sedang menyiapkan somasi kepada BERITAJAKARTA.COM yang melanggar UU telematika dengan menyebar fitnah dan memutarbalikkan fakta  sehingga sering bikin warga GCM geram. Terkhusus oknum Wartawan amplop bersama FOLMER SIHOMBING yang sudah diberi dokumen Dan bukti2 komplit namun sama sekali tidak mengindahkan prinsip media untuk menyampaikan kebenaran malah sebaliknya dijadikan lahan untuk menyebabkan fitnah Dan memutarbalikkan fakta demi uang sampai tega mengorbankan Wagub Ahok sehingga terkesan Ahok tolol, tidak paham UU dan menjadi backing mafia hitam dan menyetujui pengerahan ratusan preman untuk kekerasan. 


Sent from my iPad

__._,_.___
Reply via web post Reply to sender Reply to group Start a New Topic Messages in this topic (1)
Recent Activity:
.

__,_._,___

2 komentar:

  1. Jangan berhenti untuk terus berkarya, semoga

    kesuksesan senantiasa menyertai kita semua.
    keep update! mobil masa depan

    BalasHapus
  2. terima kasih atas informasinya..
    semoga dapat bermanfaat bagi kita semua :) Judika


    BalasHapus