Jumat, 01 Januari 2016

[Media_Nusantara] Balada Penjual Terompet, Tudingan Kafir Sampai Terompet Al Quran

 

Balada Penjual Terompet, Tudingan Kafir Sampai Terompet Al Quran
http://cdn1-a.production.liputan6.static6.com/medias/1097881/big/018375400_1451468387-sudarmin.jpg
Jemaah shalat Zuhur di Musholla Al Iman Pedurungan, Semarang, sudah bubar. Seorang laki-laki dengan banyak kerutan di dahi masih saja khusyuk berdoa.

Namanya Sudarmin (39). Dia seorang penjual terompet Tahun Baru pikulan yang sedang merenggangkan badan seraya beribadah. Pikulan terompet berwarna-warni miliknya diletakkan begitu saja di teras musholla.

"Saya asli Blora. Mau ikut jualan di tengah kota sudah penuh," kata Sudarmin membuka pembicaraan

Sudarmin sudah sepekan di Semarang. Setiap hari ia berjalan kaki menjajakan terompet dari kampung ke kampung.

Terompet itu sebagian diambil dari pemasok, tapi ada pula yang dibuatnya sendiri. Dalam sehari, tak kurang ia menjelajahi puluhan kampung sejauh puluhan kilometer.

Menjual terompet dilakukan Sudarmin setiap tahun, menjelang Natal hingga Tahun Baru. Jika tak berjualan terompet, ia sehari-hari bekerja serabutan di kampungnya.

"Ini tahun keempat saya berjualan. 2 tahun lalu, saya terakhir berjualan secara menetap, di sekitar Simpanglima Semarang," tutur Sudarmin.

Ia menyasar anak-anak sebagai pangsa pasarnya. Selain karena bentuk terompet dagangannya yang sederhana, ia merasa kalah permodalan dibanding yang mengambil segmen remaja. Benarkah dengan berjualan keliling hasil Sudarmin menjadi lebih besar?

Setiap hari, Sudarmin menjajakan tak lebih dari 50 buah terompet. Menjelang senja, ia mampu menjual sekitar 30 terompet. Beda jauh dengan omzet jika ia menetap di satu tempat yang bisa mencapai lebih dari 100 buah terompet per harinya.

"Rezeki itu sudah diatur. Saya juga pernah diusir di suatu kampung. Saya dianggap mendukung penyebaran tradisi bukan muslim," kata Sudarmin.

Suka duka mewarnai perjalanannya melintasi kampung saat menjadi penjual terompet musiman. Termasuk saat dirinya melewati kampung di perbatasan Semarang-Demak. Saat itu, ia mendekati seorang anak yang memanggilnya.

Proses jual beli berlangsung tanpa kendala. Namun, masalah justru timbul saat ia berpapasan dengan seorang ibu.

"Intinya, saya diusir. Sebelumnya, saya diceramahi kalau merayakan Tahun Baru itu merupakan tindakan kaum kafir. Saya diam saja," ucap Sudarmin.

Ceramah dadakan ibu itu cukup lama didengarkannya. Dalam hati, ia sependapat jika pergantian tahun tidak harus dirayakan berlebihan.
Namun, Sudarmin terbayang wajah istrinya, Ngatini, yang tengah mengandung 4 bulan dan 2 anaknya yang lain. Karena itu, ia memutuskan untuk melanjutkan berjualan terompet.

Penolakan kembali dihadapinya saat mendatangi kampung lain. Saat itu, Sudarmin baru saja selesai shalat Ashar. Saat hendak melanjutkan perjalanan, sejumlah anak-anak mengerumuni jualannya. Bukan untuk membeli, tapi hanya sekadar melihat-lihat.

Tak jauh dari tempatnya berdiri, seorang ibu tiba-tiba bercerita tentang proses pembuatan terompet.

"Salah satu ibu-ibu itu, sangat terpelajar kelihatannya, berkata kepada anak-anak bahwa terompet Tahun Baru itu tidak sehat. Dia ceritakan proses pembuatannya," kata Sudarmin.

Yang membuat dadanya sesak adalah sindiran dari ibu tersebut. Perempuan itu menyebutkan terompet sangat rawan menyebarkan penyakit. Ia berargumen, kerawanan itu didapat karena pembuatnya mengetes bunyi terompet dengan meniup. Menurut Sudarmin, ibu itu mengatakan pembuat terompet itu bisa saja memiliki penyakit kanker, HIV atau lainnya.

Padahal, penyakit yang disebutkan ibu itu sama sekali tidak berhubungan dengan organ pernapasan. Sudarmin yang mendengarkan celoteh ibu itu hanya bisa tersenyum.

"Enggak papa. Sekali lagi, rezeki itu sudah ada yang mengatur. Tugas kita adalah berikhtiar membuka pintu rezeki itu agar lancar menuju ke kita," ucap Sudarmin.

Kemajuan teknologi informasi dianggapnya juga menjadi salah satu faktor seretnya penjualan terompet. Salah satunya adalah dengan tersebarnya informasi negatif tentang terompet. Mulai dari yang mengharamkan, merugikan kesehatan, hingga penyebaran paham asing.

"Itu lewat SMS atau apa itu kan banyak sekarang. Makanya, saya memilih masuk dusun-dusun yang warganya tidak terlalu tergantung telepon," kata dia.

Dengan berbagai kesulitan dan kelelahan, seharinya Sudarmin mendapatkan keuntungan antara Rp 75 ribu hingga Rp 100 ribu. Uang itu ia simpan setelah dipotong untuk makan dan lain-lain. Demi menghemat, ia baru akan pulang ke kampungnya setelah pergantian tahun.

Sudarmin juga bercerita, adanya terompet yang berbahan sampul Alquran tak mempengaruhi omzetnya meski menambah kesibukannya. Selain harus melayani pembeli, jika ada pemeriksaan ia pasti akan istirahat lebih lama untuk sekadar meyakinkan bahwa terompetnya aman.

"Saya kemarin diperiksa terompetnya oleh polisi. Diteliti satu-satu. Tapi aman, karena memang tak ada terompet yang begitu," ucap Sudarmin.



__._,_.___

Posted by: Lukman Wiyono <wiyonolukman@yahoo.com>
Reply via web post Reply to sender Reply to group Start a New Topic Messages in this topic (1)

.

__,_._,___

Tidak ada komentar:

Posting Komentar