Kamis, 09 Juli 2015

[Media_Nusantara] Dakwah yang Mengubah Dunia

 

Dakwah yang Mengubah Dunia
Oleh: Mohamad Sobary

Ada kearifan klasik yang menyentak kesadaran kita setiap kali kita membicarakan kembali makna surah al-Maun. Kiai Ahmad Dahlan bertanya pada para santrinya, apakah mereka mengerti surat tersebut dan serentak para santri menjawab mengerti.

Kiai kecewa karena para santri ternyata hanya menghafal ayat-ayat dalam surat pendek tersebut dan sama sekali tak menyentuh makna hakikinya. "Hafal dan paham itu tidak sama. kata kiai dengan sikap arif, dan para santri yang terkejut itu saling memandang. Tanda kita mengerti pesan penting surat itu bukan ditampakkan pada kemampuan kita melafalkan ayat demi ayat di dalamnya.

Mengerti di situ bukan lagi bagian dari dimensi kognitif di dalam hidup kita, melainkan tampilnya dimensi evaluatif dalam kesadaran kita menjadi suatu tindakan. Perintah suci yang hanya dipahami sebagai hafalan, menjadi sekedar bacaan tetapi tidak dikerjakan, jelas tidak akan mengubah tata kehidupan dunia ini. Pemahaman kiai Dahlan yang diwujudkan di dalam tindakan pernah menggemparkan "jagat". Ada yang mengerutkan kening. Ada yang bertanya apa maksudnya. Ada yang mencemooh.

Bagi orang yang menyaksikan film bagus, "Sang Pencerah" niscaya ingat betapa revolusioner pemikiran Kiai Ahmad Dahlan, pendiri organisasi dakwah Islamiah yang bernama Muhammadiyah itu. Sang kiai mengumpulkan anak-anak telantar, anakanak yatim-piatu yang tak terurus, dan gelandangan yang tak punya orang tua. Mereka dimandikan sendiri oleh sang kiai. Sesudah itu pakaian mereka diganti yang lebih bersih, lebih baik.

Kemudian dibawa masuk ke dalam suatu ruangan, dan diajari membaca dan menulis oleh sang kiai. Kritik, celaan dan sikap sinis yang muncul di dalam masyarakat Yogyakarta pada saat itu tak digubris sama sekali oleh sang kiai. Bagi beliau, inilah terjemahan terbaik surah al- Maun tadi.

Terjemahan bukan dalam bahasa, dari bahasa Arab ke dalam bahasa kita. Terjemahan seperti itu penting sekali bagi umat. Tetapi terjemahan dalam bentuk tindakan konkret memandikan anak-anak telantar, miskin dan yatim piatu, dan memberi mereka pendidikan jelas lebih penting. Ini wujud tindakan revolusioner yang pada waktu itu belum dilakukan oleh siapa pun.

Mungkin boleh juga dikatakan bahwa tindakan itu merupakan sebuah "temuan" dalam bentuk yang lain. Ini juga merupakan sikap seorang pionir di dalam bidang sosial dan kemanusiaan. Temuan ini tidak dipatenkan, dan tak dianggap karya pribadi. Makin banyak orang meniru makin baik. Makin banyak orang merasa ikut memilikinya akan menjadi semakin baik bagi usaha dakwah Islam yang ditempuh sang kiai.

Dakwah itu memiliki makna yang luas. Syiar Islam yang dilakukan sekelompok besar pemuda-pemudi yang menyerukan keluhuran Allah yang maha tinggi, dan menyebutkan kemuliaan Rasulullah yang merupakan teladan agung bagi manusia yang mengikutinya, itu termasuk dakwah. Mengajak orang lain untuk mengikuti ajaran agama, itu juga termasuk dakwah. Pada tahap permulaan gerakan Islam, dakwah berarti mengajak banyak kalangan menjadi pengikut Rasulullah.

Dakwah memang berarti menyeru, mengajak dan menyampaikan ajakan. Mereka yang didakwahi pada mulanya golongan orang-orang yang belum beragama dan diajak untuk masuk Islam. Dalam tahapan sejarah Islam selanjutnya, dakwah bisa berarti menyeru atau mengajak berbuat baik. Mengajak berbuat baik itu sudah dakwah. Seruan iniditujukan pada sesama orang Islam.

Seruan seperti itu merupakan bagian dari amar makruf (mengajak berbuat baik) dan nahi mungkar (mencegah dengan berbagai cara) apa pun yang merupakan tindakan buruk yang merugikan orang banyak. Di sini lama-lama dakwah tidak dimaksudkan mencari sebanyak-banyaknya pengikut, melainkan merupakan usaha pendalaman dan menawarkan pemahaman agama secara mendalam dan hakiki.
 
Berbuka puasa bersama di hotel-hotel mewah, didahului ceramah, yang berupa ajakan atau imbauan, dan usaha mempersegar iman, juga dakwah. Kita tidak tahu bagaimana pengaruh sosialnya di masyarakat. Kita tahu bahwa semangat berbuka bersama itu sudah terbentuk sebagai sebuah tradisi mewah di kalangan muslim kelas menengah, atau kelas atas di kota-kota besar di negeri kita.

Alangkah bagusnya, dan betapa besar dampak sosialnya di dalam masyarakat bila kelompok berbuka bersama itu juga berubah menjadi suatu gerakan. Kita sebut saja gerakan rohani politik. Isinya membangun rohani politik yang bersih, jujur dan transparan di dalam segenap perilaku seharihari. Dengan begitu, akan menjadi sifat baik dan melembaga.

Mereka akan dengan sendirinya menjauhi sifat korup, menentang korupsi dan pelan-pelan membangun suatu tata kehidupan yang memesona. Kelompok ini akan menjadi kekuatan besar melawan korupsi. Jika ada anggota kelompok yang ternyata korup, dia harus dikeluarkan. Yang korup bukan lagi anggota. Dia menjadi orang lain, karena tindakannya telah merusak tatanan moral dan nilai yang dimuliakan bersama.

Dia tidak ada lagi di dalam kebersamaan itu. Kemuliaan seperti ini kita tunggu. Kita mengharapkan munculnya suatu tindakan yang memesona orang banyak. Kelas menengah kota, atau kelas atas, yang giat berbuka bersama, tarawih bersama, dan murah hati menyantuni kaum lemah yang dibikin makin lemah oleh tatanan politik dan ekonomi kita, bisa menjadi pelopor. Kelas menengah macam ini memiliki potensi sangat besar.

Duit ada, pemikiran ada, kemurahan hati ada. Inilah kekuatan yang seyogianya mulai mengubah tradisi buka bersama, menjadi tindakan lebih revolusioner lagi. Buka bersama itu mulia, Tapi buka bersama disertai amal-amal saleh yang monumental, jelas jauh lebih mulia, lebih memesona. Kalau Kiai Dahlan sendirian bisa melakukannya, kelas menengah yang hebat ini pasti lebih mampu lagi.

Kecuali itu, kita menanti munculnya suara-suara di berbagai masjid kita, yang melakukan dakwahnya dengan lembut, dan menyentuh. Masjid tak usah bersaing dengan suara keras dan berlomba menjadi yang paling keras. Suara keras, hiruk-pikuk di masjid memang suara syiar Islam yang baik. Tapi berlomba menyuarakan keluhuran agama secara lembut, membaca ayatayat suci secara lembut, kelihatannya akan lebih menyentuh hati manusia.

Tak peduli penganut agama apa pun mereka akan lebih tersentuh kelembutan. Kaum muslimin/muslimat atau para penganut agama lain,akan lebih terpesona mendengar suara lembut dan segenap ekspresi kelembutan. Suatu ayat yang dibaca dengan sekeras-kerasnya, yang mengagetkan penduduk di sekitar masjid, atau dibaca secara fasih, tartil, tertib dan lembut, beda pengaruhnya.

Kefasihan dan kelembutan lebih memesona. Ini dakwah yang menyentuh dunia dalam kita. Dan mengubah kesadaran kita dari dalam. Sentuhan kelembutan ini wujud pesona yang agung, yang dibutuhkan setiap telinga, setiap hati. Dakwah Islam yang memesona seperti ini makin lama makin menjauh dari kita.

Padahal, ini harta kekayaan umat yang sangat berharga. Harta kekayaan tak boleh dibiarkan hilang begitu saja. Dakwah yang memesona, biarpun hanya katakata, bisa mengubah dunia. []




Koran SINDO, 7 Juli 2015
Mohamad Sobary | Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi. Penggemar Sirih dan Cengkih, buat Kesehatan.



 

__._,_.___

Posted by: Indra Prihantaka <indrapuyi@yahoo.com>
Reply via web post Reply to sender Reply to group Start a New Topic Messages in this topic (1)

.

__,_._,___

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar